Sertifikasi green building kini menjadi standar penting dalam industri konstruksi seiring meningkatnya perhatian terhadap bangunan yang berkelanjutan. Melalui sertifikasi ini, perusahaan dapat menunjukkan komitmennya terhadap lingkungan sekaligus mendukung efisiensi operasional.
Di Indonesia, sertifikasi green building juga berfungsi sebagai alat untuk menilai kinerja bangunan berdasarkan aspek lingkungan dan keberlanjutan, salah satunya melalui sistem Greenship yang dikembangkan oleh Green Building Council Indonesia (GBCI).
Lalu, bagaimana proses sertifikasinya dan seperti apa contoh penerapannya? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini.
Apa itu Sertifikasi Green Building?
Sertifikasi green building adalah pengakuan resmi yang diberikan kepada bangunan yang telah memenuhi standar konstruksi ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Sertifikasi ini digunakan untuk menilai berbagai aspek, seperti efisiensi energi, pengelolaan air, penggunaan material ramah lingkungan, pengurangan emisi karbon, serta kesehatan dan kenyamanan penghuni.
Dengan adanya sertifikasi ini, bangunan diharapkan dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan sekaligus menerapkan praktik terbaik dalam proses desain, konstruksi, hingga operasionalnya.
Di Indonesia, sertifikasi green building diberikan oleh Green Building Council Indonesia (GBCI) melalui sistem Greenship yang disesuaikan dengan kondisi lokal.
Selain itu, terdapat pula standar sertifikasi internasional yang umum digunakan, yaitu EDGE (Excellence in Design for Greater Efficiencies), LEED (Leadership in Energy and Environmental Design), dan Green Mark.
Masing-masing memiliki kriteria penilaian yang berbeda, tetapi sama-sama bertujuan mendorong pembangunan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Baca juga: Konsep Arsitektur Hijau dan Manfaatnya untuk Masa Depan
Penilaian Sertifikasi Green Building di Indonesia
Dalam sistem Greenship, Green Building Council Indonesia (GBCI) menetapkan enam kriteria utama sebagai dasar penilaian sertifikasi green building. Setiap kriteria berfokus pada aspek keberlanjutan yang perlu diterapkan sejak proses pembangunan hingga pengelolaan bangunan. Simak enam kriteria penilaiannya berikut ini.
1. Appropriate Site Development
Kriteria Appropriate Site Development (ASD) berfokus pada pemanfaatan lahan secara berkelanjutan. Salah satu penerapannya adalah tidak menggunakan seluruh area untuk bangunan.
Sebanyak 30% dari total lahan perlu difungsikan sebagai ruang terbuka hijau dan area resapan agar keseimbangan lingkungan tetap terjaga.
2. Energy Efficiency and Conservation
Kriteria ini menekankan efisiensi penggunaan energi selama proses pembangunan maupun operasional bangunan.
Penerapannya dapat dilakukan dengan memantau konsumsi listrik, mengoptimalkan pencahayaan alami, menggunakan pencahayaan buatan secara hemat, mengatur penggunaan AC sesuai kebutuhan, mengurangi panas dari selubung bangunan, serta menekan penggunaan energi non-terbarukan.
3. Water Conservation
Pada aspek Water Conservation, penilaian difokuskan pada upaya menghemat dan mengelola penggunaan air agar tidak terbuang sia-sia. Penerapannya meliputi pemantauan konsumsi air, pemanfaatan air hujan sebagai sumber alternatif, serta pengelolaan air limbah selama proses pembangunan.
4. Material Resource and Cycle
Kriteria Material Resource and Cycle menilai bagaimana material bangunan dikelola secara berkelanjutan. Material sisa diharapkan dapat dimanfaatkan kembali, sedangkan material yang tidak dapat digunakan lagi perlu dibuang dengan cara yang lebih ramah lingkungan.
5. Indoor Health and Comfort
Aspek Indoor Health and Comfort bertujuan menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman bagi penghuni karena dapat memengaruhi produktivitas.
Upaya yang dilakukan antara lain memaksimalkan pencahayaan alami, mengurangi penggunaan lampu pada siang hari, mencegah gangguan visual akibat pencahayaan yang kurang tepat, meredam kebisingan dari luar, serta mengurangi pencemaran udara dalam ruangan yang berasal dari material interior.
Baca juga: Utilitas Bangunan: Pengertian, Sistem, dan Fungsinya
6. Building Environment Management
Kriteria terakhir adalah Building Environment Management yang berfokus pada pengelolaan bangunan secara berkelanjutan. Ruang lingkupnya mencakup pengelolaan limbah, edukasi kepada penghuni mengenai praktik ramah lingkungan, hingga pemeliharaan sistem bangunan agar tetap berjalan dengan baik.
Apabila seluruh kriteria tersebut terpenuhi, bangunan dapat memperoleh sertifikasi green building sebagai bukti telah menerapkan prinsip pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Proses Sertifikasi Green Building di Indonesia
Untuk memperoleh sertifikasi Greenship di Indonesia, pemilik proyek perlu melalui beberapa tahapan berikut:
- Menetapkan target sertifikasi: Proses dimulai sejak tahap perencanaan dengan menetapkan tujuan untuk memperoleh sertifikasi green building. Setelah itu, tim Green Building Council Indonesia (GBCI) akan melakukan kunjungan awal untuk memberikan informasi terkait proses sertifikasi.
- Menunjuk Greenship Professional (GP): Pemilik proyek kemudian menunjuk seorang Greenship Professional yang akan mendampingi seluruh proses sertifikasi.
- Mengajukan pendaftaran: Selanjutnya, pemilik proyek mengisi surat pernyataan minat dan membayar donasi awal sebesar Rp5.000.000.
- Melengkapi dokumen persyaratan: GBCI akan memberikan formulir pendaftaran yang harus dilengkapi dengan dokumen kelayakan, seperti RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah), UKL-UPL (Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup), serta bukti luas bangunan minimal 2.500 m².
- Verifikasi dan kontrak: Jika dokumen dinyatakan memenuhi syarat, pemilik proyek menandatangani kontrak dan membayar 25% dari biaya sertifikasi.
- Registrasi proyek: Setelah proses administrasi selesai, proyek akan didaftarkan dan memperoleh Surat Deklarasi Proyek, plang proyek, serta buku panduan Greenship. Pada tahap ini juga akan diadakan workshop pertama untuk membahas sistem penilaian.
- Self-assessment dan audit: Tim proyek melakukan penilaian mandiri (self-assessment) serta menyiapkan dokumen yang kemudian diaudit oleh mitra sertifikasi.
- Penerbitan sertifikat: Setelah proses evaluasi selesai, GBCI akan menerbitkan sertifikat sesuai tingkat pencapaian proyek sebagai bukti bahwa bangunan telah memenuhi standar bangunan hijau dan berkelanjutan.
Baca juga: Bambu Bahan Konstruksi Ramah Lingkungan untuk Hunian Alami
Contoh Perusahaan yang Mendapatkan Sertifikat Green Building di Indonesia
Penerapan konsep green building di Indonesia telah dilakukan oleh berbagai perusahaan dan institusi melalui gedung yang memperoleh sertifikasi Greenship dari Green Building Council Indonesia (GBCI). Beberapa contohnya meliputi:
- Pacific Place.
- L'Oréal Indonesia.
- Wisma Subiyanto.
- Kementerian Pekerjaan Umum.
- Sequis Center.
- Alamanda Tower.
- Menara BCA Jakarta.
- Sampoerna Strategic Square.
Daftar tersebut menunjukkan bahwa sertifikasi green building telah diterapkan pada berbagai jenis bangunan di Indonesia sebagai bagian dari upaya mewujudkan pembangunan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Mewujudkan bangunan berkonsep green building kini bukan lagi sekadar tren, melainkan langkah nyata untuk menjaga kelestarian bumi sekaligus menghemat biaya operasional jangka panjang. Kunci utamanya tentu berawal dari pemilihan material konstruksi yang tepat dan ramah lingkungan.
Bagi Anda yang sedang merencanakan proyek bangunan hijau, Semen Merah Putih FLEXIPLUS adalah solusi paling ideal. Produk semen hidraulik ini dikembangkan khusus untuk aplikasi struktural yang membutuhkan beton berkekuatan tekan tinggi dan proses pengerjaan yang lebih mudah.
Karakteristik ini menjadikannya pilihan tepat untuk produk beton siap pakai, beton pracetak, hingga produksi bata ringan atau Autoclaved Aerated Concrete (AAC).
Selain tangguh, Semen Merah Putih FLEXIPLUS juga telah membuktikan komitmen hijaunya dengan meraih sertifikasi Green Label Indonesia (GLI) dengan peringkat Gold, predikat tertinggi dari Green Product Council Indonesia (GPCI).
Diproses menggunakan teknologi inovatif yang ramah lingkungan, semen ini mampu mengurangi emisi karbon di setiap tahapan produksi tanpa sedikitpun mengurangi kualitas, kekuatan, dan daya tahannya.
Tertarik menciptakan konstruksi masa depan yang kokoh dan berkelanjutan? Hubungi kami sekarang untuk mendapatkan solusi konstruksi terbaik bagi proyek Anda! Kami siap mendampingi keberhasilan proyek Anda dengan material unggulan dan layanan tim ahli yang berpengalaman.
Baca juga: 15 Jenis Bahan Mentah untuk Bangunan dan Fungsinya, Yuk Cek!



